Dampak Kamera ETLE terhadap Pelanggar Lalin di Jakarta
Skala pelanggaran lalu lintas di Jakarta kembali terlihat jelas lewat kerja kamera tilang elektronik atau ETLE. Dalam satu hari pengawasan, Ditlantas Polda Metro Jaya mencatat lebih dari 152.000 pengendara melanggar aturan dan terekam di sejumlah titik pemantauan di Ibu Kota. Angka itu memperlihatkan bahwa persoalan disiplin berlalu lintas masih menjadi pekerjaan besar, meski pengawasan berbasis kamera terus diperluas.
Lebih dari 152 Ribu Pelanggar Terekam
Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Ojo Ruslani, mengatakan total pelanggaran yang terekam pada Jumat, 7 Februari 2025, mencapai 152.411 kasus. Dari jumlah tersebut, 3.577 pelanggar sudah menerima notifikasi tilang melalui pesan WhatsApp.
Data itu menunjukkan bahwa kamera ETLE bukan sekadar alat pemantau, tetapi juga menjadi instrumen penindakan yang semakin aktif menjaring pelanggaran di jalan raya. Rekaman dilakukan di berbagai lokasi yang menjadi titik pengawasan di wilayah Jakarta.
Jakarta Timur Paling Menonjol
Menurut Ojo, Jakarta Timur menjadi wilayah dengan jumlah pelanggaran paling tinggi dibanding daerah lain di Jakarta. Setelah itu, pelanggaran terbanyak tercatat di Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, dan Jakarta Utara.
Selain kamera ETLE statis, pelanggaran juga terdeteksi dari kendaraan ETLE milik Gakkum dan Gatur yang bergerak di lapangan. Kehadiran kendaraan ini membuat pengawasan tidak lagi bergantung pada titik kamera tetap, melainkan ikut menjangkau ruas-ruas jalan yang lebih dinamis.
Pelanggaran yang Masih Berulang
Jenis pelanggaran yang paling sering muncul masih berkisar pada hal-hal dasar yang selama ini kerap diabaikan pengendara. Di antaranya pelanggaran ganjil-genap, tidak menggunakan sabuk pengaman, menerobos lampu merah, hingga menggunakan telepon seluler saat berkendara.
Kamera juga merekam pengendara yang tidak memakai helm serta mereka yang melaju melebihi batas kecepatan. Pola pelanggaran yang berulang ini menunjukkan bahwa persoalan keselamatan di jalan belum sepenuhnya menjadi kebiasaan bagi sebagian pengguna kendaraan di Jakarta.
Di tengah jumlah pelanggaran yang masih besar, ETLE menjadi penanda bahwa pengawasan lalu lintas di Jakarta makin bergeser ke sistem digital. Namun, data yang muncul justru menegaskan satu hal: penindakan bisa diperluas, tetapi perubahan perilaku di jalan masih tertinggal jauh.





