Dugaan Pemerasan di Balik Kematian ASN di Lombok Utara, Polsek Kayangan Dirusak Massa
Kasus kematian aparatur sipil negara (ASN) bernama Rizki Watoni di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, memicu gelombang pertanyaan baru setelah muncul dugaan adanya pemerasan dalam rangkaian penanganan perkaranya. Rizki ditemukan tewas gantung diri, namun keluarga menilai ada tekanan yang membuat kondisi korban kian terdesak. Di tengah simpang siur informasi, dugaan permintaan uang belasan juta rupiah ikut menyeret kasus ini ke ruang publik dan memantik kemarahan warga.
Berawal dari kejadian di Alfamart Kayangan
Perkara ini bermula dari insiden di Alfamart Kayangan, saat Rizki berbelanja bahan untuk jualan berbuka puasa. Dalam peristiwa itu, ia diduga tanpa sengaja membawa pulang telepon genggam milik pegawai bernama Raden Faozan. Ponsel tersebut kemudian dikembalikan dan permintaan maaf sudah disampaikan, tetapi persoalan tidak berhenti sampai di situ. Kasus justru berlanjut ke kepolisian dan berkembang menjadi rangkaian peristiwa yang kini dipersoalkan keluarga korban.
Di titik inilah dugaan tekanan mulai mencuat. Keluarga menilai, proses yang berjalan setelah insiden itu tidak lagi sederhana. Dari yang semula hanya persoalan salah paham, kasus tersebut berubah menjadi beban psikologis yang disebut ikut memengaruhi kondisi Rizki sebelum ia ditemukan tewas.
Keluarga menuding ada tekanan dari aparat
Ayah Rizki, Nasruddin, menegaskan keyakinannya bahwa anaknya diperas oleh seorang anggota polisi di Polsek Kayangan. Dugaan itu menjadi fokus perhatian karena keluarga mengaitkannya dengan tekanan yang dirasakan korban. Mediasi memang sempat dilakukan antara kedua pihak, tetapi upaya tersebut tidak sepenuhnya meredakan persoalan.
Di tengah beredarnya kabar soal permintaan uang damai, Kapolres Lombok Utara AKBP Agus Purwanta membantah adanya pemerasan. Kendati demikian, kepolisian menyatakan penyelidikan tetap berjalan untuk memastikan duduk perkara secara utuh. Sampai saat ini, dugaan-dugaan yang muncul masih menjadi sorotan dan menunggu pembuktian dari proses pemeriksaan yang berlangsung.
Kemarahan warga berujung perusakan Polsek Kayangan
Kematian Rizki memicu amarah warga yang kemudian meluas menjadi aksi massa. Polsek Kayangan menjadi sasaran perusakan dan pembakaran, menandai memuncaknya ketegangan di lapangan. Peristiwa itu menunjukkan bahwa kasus ini tak hanya menyangkut keluarga korban, tetapi juga telah menimbulkan kegelisahan sosial di tengah masyarakat Lombok Utara.
Meski situasi disebut telah kondusif, pengawasan ketat masih dilakukan untuk mencegah eskalasi susulan. Kapolda NTB bahkan turun langsung ke lokasi guna memastikan keamanan sekaligus menemui keluarga korban. Di sisi lain, aparat berupaya menjaga agar ketegangan tidak kembali melebar setelah amuk massa merusak kantor polisi tersebut.
Komisi III DPR minta penyelidikan dibuka terang
Kasus ini juga menarik perhatian Komisi III DPR RI. Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Sari Yuliati, menekankan perlunya investigasi serius atas dugaan tekanan dan intimidasi yang dialami Rizki. Ia menilai penegakan hukum harus berjalan adil, transparan, dan profesional agar kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian tidak semakin terkikis.
Dengan rangkaian peristiwa yang terus berkembang, kematian Rizki Watoni kini telah melampaui tragedi pribadi. Kasus ini berubah menjadi ujian bagi penanganan hukum di Lombok Utara, terutama untuk menjawab pertanyaan yang paling mendasar: apakah benar ada pemerasan di balik kematian ASN tersebut.
Source link





