Jakarta — Presiden Prabowo Subianto menyebut cadangan beras dan jagung Indonesia saat ini berada pada level tertinggi sepanjang sejarah. Pernyataan itu ia sampaikan saat membuka Konvensi dan Pameran Tahunan ke-49 Indonesian Petroleum Association (IPA) di Jakarta, sebuah forum yang dihadiri pemangku kepentingan sektor migas dari lebih dari 60 negara.
Cadangan pangan disebut tertinggi sepanjang sejarah
Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan capaian tersebut lahir dari kebijakan yang menurutnya masuk akal dan berorientasi pada penyelesaian masalah. Ia menilai arah kebijakan itu tidak semata soal angka produksi, tetapi juga menyangkut keberpihakan pada kepentingan bangsa dan rakyat.
Prabowo mengaku bersyukur sekaligus bangga karena capaian itu diraih dalam waktu yang relatif singkat sejak pemerintahannya berjalan. Menurut dia, produksi pangan nasional bahkan sudah melampaui target dan perkiraan yang sebelumnya ditetapkan.
Produksi melampaui perkiraan
Dengan stok yang disebut sangat besar, pemerintah kini dihadapkan pada kebutuhan tambahan fasilitas penyimpanan. Prabowo menyebut pembangunan gudang baru menjadi hal yang perlu dipikirkan agar hasil produksi tidak terkendala pada tahap penampungan.
Ia menekankan, kebijakan yang baik adalah kebijakan yang sederhana namun efektif: menyelesaikan persoalan, menjaga kepentingan negara, dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Dalam pandangannya, itulah yang membuat cadangan pangan nasional bisa mencapai posisi seperti sekarang.
Forum internasional di Jakarta
Pernyataan itu disampaikan di tengah forum energi berskala internasional yang mempertemukan pelaku industri migas dari berbagai negara. Di hadapan peserta yang datang dari lebih dari 60 negara, Prabowo membawa isu pangan sebagai salah satu contoh kebijakan nasional yang ia nilai berhasil menunjukkan hasil nyata.
Di forum itu, pesan yang ia ulang berulang kali adalah pentingnya kebijakan yang berpijak pada akal sehat dan kepentingan publik, bukan sekadar slogan. Dari panggung IPA ke-49, Prabowo mencoba menempatkan capaian pangan sebagai bukti bahwa keputusan yang dianggap tepat bisa langsung terlihat dampaknya di lapangan.

