Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, merespons santai gelombang penolakan atas usulan Presiden ke-2 RI, Soeharto, menjadi pahlawan nasional. Menurutnya, suara penolakan terhadap usulan tersebut merupakan hal yang lumrah dalam negara demokrasi. Bahlil menegaskan bahwa Soeharto memiliki peran besar dalam pembangunan Indonesia, dengan 32 tahun rezim Orde Baru di bawah kepemimpinannya dianggap sebagai pencapaian luar biasa. Dia mengajak semua pihak untuk menghormati jasa-jasa Soeharto terhadap negeri ini.
Bahlil menambahkan bahwa selama masa pemerintahan Soeharto, Indonesia berhasil diarahkan keluar dari tingkat inflasi yang parah dan mencapai swasembada pangan dan energi. Selain itu, kontribusi Soeharto terhadap pembangunan selama Orba juga tidak bisa diabaikan, termasuk dalam mendirikan Golongan Karya yang kemudian berubah menjadi Partai Golkar. Kelahiran Golkar pada masa itu juga dianggap sebagai langkah melawan ideologi komunisme yang memiliki niat untuk menggulingkan kekuasaan dan menggantikan ideologi Pancasila.
Sebelumnya, terdapat usulan 40 nama, termasuk nama Soeharto, untuk ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun ini. Usulan tersebut menuai pro dan kontra di masyarakat, di antaranya dari Gerakan Masyarakat Sipil Adili Soeharto (GEMAS) yang mengecam langkah tersebut. Namun, Menteri Sosial Saifullah Yusuf optimis bahwa nama-nama pahlawan nasional yang baru akan diumumkan sebelum memperingati Hari Pahlawan pada 10 November mendatang. Mudah-mudahan langkah ini dapat menumbuhkan apresiasi yang lebih dalam terhadap sejarah bangsa.





