Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan menggelar Bincang Bareng Media yang dipimpin oleh Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rizky Ernadi Wirmanda. Rizky memberikan gambaran tentang kondisi perekonomian global, nasional, dan regional, serta langkah kebijakan yang akan diambil untuk memastikan stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Menurut Rizki, situasi ekonomi global masih penuh ketidakpastian dengan beberapa negara maju seperti Jepang, Eropa, dan India yang masih tumbuh lambat. Namun, ada peningkatan ekonomi di China berkat stimulus fiskal. Di sisi lain, Amerika Serikat tidak menunjukkan kelemahan yang signifikan dengan semakin tingginya tingkat pekerjaan.
Selain itu, Rizky juga membahas pergerakan suku bunga global yang menunjukkan tanda-tanda penurunan dan indeks dolar AS yang melemah. Meskipun begitu, harga emas malah naik tajam karena dianggap sebagai instrumen investasi yang lebih aman dalam kondisi pasar yang tidak pasti. Di tingkat nasional, pertumbuhan ekonomi triwulan III di Indonesia mencapai 5.04%, sedikit melambat dari triwulan sebelumnya. Sektor pertanian dan jasa pendidikan menjadi penyokong pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Di Sulawesi Selatan, ekonomi tumbuh sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat nasional pada triwulan III. Konsumsi rumah tangga dan investasi menjadi pendorong utama pertumbuhan di daerah ini. Namun demikian, inflasi di Sulawesi Selatan masih terkendali dan sebagian besar disumbang oleh kenaikan harga emas di pasar global. Bank Indonesia menyoroti kebutuhan investasi besar untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang ambisius. Secara nasional, dibutuhkan investasi sebesar Rp13.000 triliun dengan rata-rata kenaikan 15.7% per tahun.
Untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan, BI telah mengusulkan sejumlah rekomendasi strategis, seperti pengembangan sektor pertanian dan perkebunan, perbaikan konektivitas perdagangan, pengembangan industri pengolahan, dan upaya pengendalian inflasi. Target pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan hingga tahun 2029 adalah 8.2%, namun tanpa percepatan investasi dan perbaikan struktur ekonomi, pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya akan berada di kisaran 6.2-6.3%.
Rizki menyimpulkan bahwa Sulawesi Selatan memiliki potensi besar untuk menjadi motor pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur, namun hal ini membutuhkan daya saing dan investasi yang memadai. Seluruh upaya strategis dan rekomendasi yang diberikan oleh Bank Indonesia diharapkan dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan stabil di Sulawesi Selatan.





