Samsara, Film Bisu Garin Nugroho yang Siap Tayang di Bioskop Indonesia pada 20 November
JAKARTA — Setelah lebih dulu berkeliling ke sejumlah negara di Asia dan Eropa, Samsara, film terbaru Garin Nugroho, akhirnya dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 20 November. Karya ini menempuh jalur yang tak lazim: nyaris tanpa dialog, tampil hitam putih, dan bertumpu pada kekuatan gambar, musik, serta permainan gestur para pemain.
Cinta, kasta, dan kutukan di Bali awal abad ke-20
Berlatar Pulau Bali pada awal abad ke-20, Samsara mengangkat romansa bernuansa horor tentang Darta, lelaki dari kalangan jelata, dan Sinta, perempuan dari keluarga bangsawan. Hubungan keduanya terhalang aturan sosial dan perbedaan kasta yang kaku. Dalam upaya mencari jalan keluar, Darta disebut membuat perjanjian mistis dengan Raja Monyet demi mendapatkan restu.
Namun, keputusan itu justru menyeret hidupnya ke dalam kutukan. Garin Nugroho merangkai kisah ini sebagai pertemuan antara cinta, keserakahan, dan karma, dengan latar budaya Bali yang kuat dan atmosfer yang sengaja dibangun untuk membawa penonton kembali ke era 1930-an.
Musik gamelan dan elektronik jadi penopang utama
Karena minim dialog, film ini mengandalkan ekspresi tubuh, komposisi visual, dan iringan musik untuk menyampaikan emosi. Musik latar gamelan orkestra yang dipadukan dengan elemen elektronik digarap oleh Wayan Sudirana bersama Kasimyn dari Gabber Modus Operandi. Perpaduan itu menjadi salah satu penanda paling menonjol dari Samsara, sekaligus mempertegas pendekatannya yang berada di antara film, teater, dan konser.
Deretan pemain yang terlibat antara lain Ario Bayu, Juliet Widyasari Burnett, Gus Bang Sada, Valentine Payen Wicaksono, serta aktor asal Bali I Wayan Wira Kusuma, Siko Setyanto, dan Cok Sawitri.
Sudah menuai pengakuan di festival film
Sebelum tiba di layar bioskop Tanah Air, Samsara lebih dulu mengumpulkan perhatian di panggung internasional. Film ini telah meraih empat Piala Citra di Festival Film Indonesia 2024 dan juga masuk nominasi Asia Pacific Screen Awards 2025. Pencapaian itu menempatkan film Garin Nugroho ini sebagai salah satu karya Indonesia yang paling mencuri perhatian dalam perbincangan film festival belakangan ini.
Penayangan di Indonesia menjadi kesempatan bagi penonton untuk melihat langsung bagaimana Garin mengolah cerita klasik tentang larangan sosial dan konsekuensi pilihan hidup ke dalam bentuk sinema yang tidak biasa, tetapi tetap bertumpu pada emosi yang dekat dengan pengalaman manusia.
Source link

