Peristiwa tragis pada salat Iduladha 14 Mei 1962 mengubah nasib Panglima Hizbullah, KH Zainul Arifin Pohan, yang saat itu menjadi target peluru panas dari kelompok DI/TII yang berencana membunuh Sukarno. Insiden itu terjadi saat Salat Iduladha rakaat kedua berlangsung, dengan Sukarno dan Zainul berada di barisan saf terdepan. Setelah kepergiannya, Zainul diangkat sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 35 Tahun 1963 pada 4 Maret 1963.
Zainul Arifin, seorang politikus dan ulama senior Nahdlatul Ulama (NU), telah mencatat kisah panjang dalam perjuangan kemerdekaan. Sebagai pemimpin Laskar Hizbullah dan pendiri jaringan tonarigumi, Zainul memainkan peran kunci dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda selama Agresi Militer I dan II. Jejaknya bersama NU dimulai sebagai kader Gerakan Pemuda Anshor sebelum kemudian menjabat dalam berbagai posisi penting.
Sebagai anak tunggal dari keluarga bangsawan, Zainul mengalami perjuangan sejak masa kecil setelah orangtuanya bercerai. Dengan perjalanan pendidikan dan pengalaman kerja yang beragam, Zainul menjadi salah satu tokoh kunci dalam melawan penindasan kolonial dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Namun, nasib tragisnya terwujud pada 14 Mei 1962 saat ia menjadi korban percobaan pembunuhan yang diakhiri dengan kematian beberapa bulan kemudian. Tulisan ini mengungkap kisah hidup dan perjuangan KH Zainul Arifin Pohan yang layak diabadikan sebagai bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.





