Di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, Bank Indonesia mengingatkan betapa pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas. Poin ini disorot dalam kegiatan “Bincang Bareng Media” dengan tema “Mendorong Pertumbuhan Ekonomi, Mempertahankan Stabilitas” yang memaparkan hasil survei terbaru dari BI sebagai indikator terkemuka kondisi ekonomi.
Rizki Ernadi Wimanda, Kepala Perwakilan BI Sulawesi Selatan, menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan sebesar 3,3% pada tahun 2025 dan kemudian melambat menjadi 3,2% pada tahun 2026. Faktor penurunan ini dipengaruhi oleh risiko tarif dari Amerika Serikat dan kerentanan rantai pasok global. Meskipun begitu, ekonomi Amerika Serikat cenderung membaik berkat investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) dan insentif fiskal seperti pengurangan pajak. Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi Jepang, Tiongkok, dan India menunjukkan adanya penurunan pada tahun 2026.
Dari sisi pasar keuangan global, penurunan ruang gerak Fed Funds Rate (FFR) semakin terbatas karena ketidakpastian global yang semakin meningkat. Indeks dolar AS melemah terhadap mata uang negara maju, seiring dengan minat yang meningkat terhadap aset aman seperti emas. Kenaikan harga emas dunia dan dalam negeri menjadi tanda bahwa pelaku pasar semakin berhati-hati terhadap risiko global.
Di sektor ekonomi nasional, pertumbuhan yang solid terjadi pada kuartal IV dengan pertumbuhan sebesar 5,39%, sehingga pertumbuhan tahunan mencapai 5,11%. Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan impor, meskipun konsumsi pemerintah mengalami penurunan dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Sektor pertanian dan perdagangan menguat, sementara sektor industri dan pertambangan masih mengalami tekanan.
Sulawesi memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian nasional, dengan wilayah Sulawesi Selatan menjadi kontributor terbesar di kawasan tersebut (2,39%) dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,43%. Sulawesi Tengah mencatat pertumbuhan tertinggi di Sulawesi dengan angka 8,47%. Secara keseluruhan, kombinasi wilayah Sulawesi-Maluku-Papua mencapai 9,9%, melampaui Kalimantan (8,12%), tetapi masih di bawah Sumatera (22,22%) dan Jawa (56,9%).
Hasil survei Bank Indonesia memberi peringatan dini untuk memantau aktivitas ekonomi dan harga. Survei ini melibatkan responden dari berbagai kalangan, mulai dari konsumen hingga pelaku usaha, sehingga memberikan gambaran yang komprehensif mengenai kondisi perekonomian.
Harga komoditas di Sulawesi Selatan pada bulan Februari masih dalam kondisi terkendali dan di bawah rata-rata nasional. Namun, menjelang Ramadan dan Idulfitri, sejumlah komoditas menunjukkan tren kenaikan seperti daging sapi, telur ayam ras, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, dan minyak goreng. Di sisi lain, harga beras relatif stabil, sementara daging ayam ras, bawang merah, dan gula pasir cenderung turun karena pasokan yang terjaga.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di Sulawesi tetap di zona optimis di atas 100, meski mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan bulan Desember. Optimisme ini dirasakan di seluruh kelompok pendapatan, didorong oleh pendapatan yang masih stabil dan prospek kerja yang cenderung positif. Indeks Penjualan Ritel (IPR) tumbuh sebesar 2,6% (yoy) pada Januari 2024, dengan perlambatan bulanan setelah Natal dan Tahun Baru dianggap sebagai normalisasi permintaan, bukan sebagai pelemahan yang struktural.
Kesimpulannya, hasil survei dari Bank Indonesia memberikan sinyal yang penting bagi pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat: menjaga ketersediaan pangan, mengkoordinasikan upaya pengendalian inflasi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), dan meningkatkan produktivitas sektor riil sebagai kunci dari pertumbuhan ekonomi yang stabil di tengah kondisi global yang tidak pasti.





