JAKARTA — Pembangunan hunian tetap bagi penyintas bencana di Sumatera memang mulai bergerak, tetapi lajunya masih belum mendekati kebutuhan di lapangan. Dari target 17.969 unit hunian tetap atau huntap yang direncanakan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, baru 401 unit yang terealisasi.
Realisasi Masih Jauh dari Target
Data Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera menunjukkan pembangunan huntap masih berada pada tahap awal. Hunian tetap itu disiapkan setelah hunian sementara atau huntara rampung dibangun, sebagai tahap lanjutan pemulihan bagi warga terdampak bencana.
Di tiga provinsi tersebut, pembangunan tersebar di Aceh sebanyak 104 unit, Sumatera Utara 524 unit, dan Sumatera Barat 817 unit. Meski angka itu menandakan adanya kemajuan, kebutuhan penyintas masih jauh lebih besar dibandingkan capaian saat ini. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pekerjaan pemulihan pascabencana belum bisa disebut memasuki fase tuntas.
Lintas Lembaga Dilibatkan
Percepatan pembangunan huntap turut melibatkan sejumlah lembaga, mulai dari BNPB, Polri, Kementerian PKP, Yayasan Buddha Tzu Chi, Kemenko Polhukam, Baznas, Danantara, hingga Kadin. Keterlibatan banyak pihak ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana di Sumatera tidak bisa bertumpu pada satu institusi saja.
Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa ketepatan data penerima bantuan dari pemerintah daerah menjadi kunci agar proses pembangunan tidak tersendat. Menurut dia, validitas data menentukan apakah bantuan benar-benar sampai kepada warga yang berhak.
Data Penerima Jadi Titik Krusial
Di tengah lambatnya realisasi, persoalan data menjadi sorotan penting. Tanpa data yang akurat, pembangunan berisiko tidak tepat sasaran dan memperlambat proses pemulihan warga. Pemerintah, kata Tito, tetap berkomitmen mempercepat pembangunan hunian permanen tersebut.
Bagi para penyintas, huntap bukan sekadar bangunan baru. Di balik angka-angka itu, masih ada warga yang menunggu kepastian kapan mereka bisa meninggalkan hunian sementara dan kembali menjalani hidup dengan lebih pasti setelah bencana.
Source link





