Isu tentang kemungkinan terjadinya perang dunia semakin marak diperbincangkan, baik di platform digital maupun di ruang-ruang diskusi komunitas. Kekhawatiran yang beredar tersebut akhirnya memicu lahirnya IR Youth Talks#1, sebuah agenda dialog publik yang dipelopori oleh Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) Chapter Jabodetabek.
Bertempat di Auditorium Suwantji Sisworahardjo FISIP UI pada 21 April 2026, kegiatan ini menghadirkan dialog terbuka yang fokus membahas posisi Indonesia di tengah gelombang tantangan global terbaru.
Dalam forum bertema “Indonesia dalam Dinamika Geopolitik Global”, Anggy Pasaribu—jurnalis dan pendiri “Story of Anggy”—memulai diskusi dengan mengajukan pertanyaan yang sederhana tapi menohok: apakah kekhawatiran publik terkait perang dunia sungguh berlandaskan realitas?
Alih-alih menjawab pertanyaan secara eksplisit, Anggy justru mendorong peserta untuk meninjau isu global dengan sudut pandang lebih hati-hati tanpa terperangkap pada asumsi yang belum tentu benar.
Menanggapi keresahan itu, Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso yang mewakili Lemhannas RI, mengingatkan generasi muda agar tidak terbawa arus spekulasi seputar ancaman perang dunia. Baginya, justru kesiagaan menghadapi kemungkinan krisis global seharusnya lebih diutamakan dibanding sekadar menebak-nebak ancaman perang.
Ia menandaskan, “Yang utama adalah memperkuat kesiapan nasional, bukan larut dalam prediksi mengenai perang dunia.”
Melalui pendekatan sistematik seperti net assessment dan simulasi skenario, Lemhannas melakukan analisa atas ancaman eksternal dan dalam negeri yang berpotensi mengganggu stabilitas nasional.
Hasil kajian itu mengungkapkan sejumlah kerentanan Indonesia, mulai dari ketergantungan impor energi dan pangan hingga posisi strategis yang membuat Indonesia berada di persimpangan kepentingan negara besar dalam rivalitas Indo-Pasifik.
Dampak dari gejolak global bisa langsung terasa di dalam negeri, baik melalui perubahan harga energi, tekanan ekonomi, maupun risiko ranah pertahanan.
Di tengah situasi tersebut, Aloysius menyoroti pentingnya memperkuat Pancasila sebagai identitas sekaligus penyangga ketahanan nasional. Dikatakannya, keunggulan suatu bangsa bukan cuma dari sisi ekonomi atau kekuatan militer, tapi juga kemantapan ideologi yang membingkai solidaritas masyarakat saat tekanan eksternal meningkat.
“Selama ideologi kita kokoh, tekanan apapun dari luar tidak lantas memecah persatuan bangsa,” ujarnya.
Sementara itu, Broto Wardoyo dari UI mengajak audiens memandang dinamika global dari perspektif analitik alih-alih sekadar tanggapan spontan. Ia menekankan bahwa krisis internasional saat ini adalah bagian dari proses transisi sistem global, bukan gelagat pasti menuju perang dunia.
Menurutnya, rangkaian krisis yang tengah terjadi justru membentuk pola baru hubungan antarnegara, di mana keterkaitan antara isu-isu seperti konflik geopolitik, krisis energi, dan tekanan ekonomi saling memperkuat efek domino global.
Lebih jauh, Broto menyoroti peranan tokoh-tokoh seperti Donald Trump yang lewat kebijakan luar negerinya berkontribusi pada memperumit peta ketidakpastian global.
Broto juga memperkenalkan strategi resilience-based hedging, yakni kombinasi upaya memperkuat bangsa dari dalam dan keluwesan dalam diplomasi luar negeri. Konsep ini diyakini dapat meningkatkan daya tahan Indonesia menghadapi gelombang krisis dengan sikap adaptif tanpa kehilangan daya saing domestik.
Forum IR Youth Talks#1 dimanfaatkan sebagai jembatan antar akademisi, mahasiswa, dan pembuat kebijakan untuk saling bertukar gagasan secara setara. Enam perguruan tinggi terlibat di balik penyelenggaraan forum ini, membuktikan bahwa sinergi lintas kampus sangat penting untuk memperluas pemahaman isu hubungan internasional bagi anak muda.
Jeanne Francoise dari AIHII menegaskan pentingnya membumikan kajian global kepada mahasiswa di berbagai universitas agar isu strategis tidak hanya diketahui segelintir kalangan ahli, tetapi juga terbuka bagi generasi pelanjut bangsa yang berpotensi besar terdampak di masa depan.
Forum semacam ini menjadi bukti nyata bahwa isu-isu global kini tak lagi eksklusif bagi para akademisi, tetapi justru relevan dan patut disikapi oleh seluruh generasi muda.
Sebelum diskusi ditutup, Anggy Pasaribu mengingatkan tentang urgensi menjaga mutu ruang dialog publik. Ia menyoroti pentingnya kritik yang sehat dan elegan, agar diskusi tetap berjalan membangun dalam ruang yang tepat.
“Kritik memang sangat dibutuhkan, asal disampaikan dengan santun pada tempat yang semestinya,” jelas Anggy.
Anggy juga menambahkan bahwa kontribusi generasi muda dapat diwujudkan melalui pemahaman isu serta penyampaian gagasan yang matang secara konstruktif, bukan melalui sikap reaktif.
Kesimpulan diskusi menyoroti bahwa walau ketidakpastian global itu nyata, reaksi kita tak seharusnya didasarkan atas rasa cemas berlebihan. Justru, kesiapan bangsa menanggapi tantangan global dengan bijak dan solid menjadi penentu utama daya tahan Indonesia di masa depan.
Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Soroti Risiko Global Bagi Anak Muda
Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko





