Sendratari “Wusi Tungkau Nansarunai” Menghidupkan Kembali Memoar Bangsa Dayak Ma’anyan
Di bawah cahaya gemerlap lampu panggung UPT Taman Budaya Kalimantan Tengah, malam Jumat (1/5/2026), sebuah memoar kolektif bangsa Dayak Ma’anyan dihidupkan kembali melalui pementasan sendratari. Pementasan ini bukan sekadar gerakan tari biasa, tetapi sebagai refleksi mendalam tentang kehancuran, kekuatan, dan keinginan untuk bangkit dari puing-puing sejarah.
Kisah ini berawal dari Kerajaan purba Suku Dayak Ma’anyan yang merupakan salah satu sub suku tertua di Kalimantan. Kerajaan ini berdiri sejak zaman prasejarah dan bertahan selama ribuan tahun sebelum akhirnya runtuh.
Perang Tragis Melawan “Nansarunai Usak Jawa”
Kerajaan Nansarunai hidup dalam harmoni sempurna di bawah Amah Jarang, pemimpin penting mereka. Namun, kedamaian tersebut terganggu ketika “Nansarunai Usak Jawa” menyerang Kerajaan, mengakibatkan perang tragis yang menghancurkan peradaban Nansarunai hingga ke akar-akarnya.
Produser pementasan, Alfirdaus, menjelaskan bahwa peristiwa “Nansarunai Usak Jawa” merujuk pada serangan besar dari entitas luar yang sering dikaitkan dengan ekspansi Kerajaan Majapahit pada masa lampau. Penekanan dalam pementasan ini bukan hanya pada peperangan fisik, tetapi juga pada pesan filosofis tentang pengendalian diri.
Pesan Mendalam dan Harapan bagi Masa Depan
Alfirdaus menyoroti bahwa hawa nafsu yang tidak terkendali adalah pemicu utama kehancuran Nansarunai. Pementasan ini bukan hanya tentang kehancuran fisik, tetapi juga tentang kekuatan untuk bangkit kembali.
Ratusan penonton yang memadati UPT Taman Budaya disuguhkan dengan momen-momen mengharukan dari eksodus Suku Dayak Ma’anyan ke hutan Barito demi keselamatan. Pementasan ini memperlihatkan bahwa kehancuran bukanlah akhir dari segalanya, tetapi merupakan awal dari kebangkitan.
Melalui sendratari ini, masyarakat Dayak Ma’anyan diingatkan akan pentingnya menjaga akar budaya mereka di tengah arus zaman yang terus bergerak. Harapan besar disematkan pada generasi muda untuk menghargai dan memahami sejarah dengan bertanggung jawab.
Di saat malam yang indah di Jalan Temanggung Tilung, panggung UPT Taman Budaya menjadi saksi bahwa luka masa lalu dapat diubah menjadi kekuatan baru yang membangun semangat untuk masa depan.





