JURNALIS PENULIS TAKDIR Episode 8: Dua Saudara, Satu Kesadaran
Cahaya merah dan biru bertabrakan di bawah kubah observatorium, lalu pecah menjadi ribuan serpihan yang tidak jatuh ke lantai, melainkan menembus tubuh Raka dan Rahsa seperti hujan yang bergerak menuju arah sebaliknya. Dalam satu detik, keduanya masih berdiri saling berhadapan dengan tangan terkunci pada bahu masing-masing.
Pada detik berikutnya, lantai menghilang, kubah observatorium lenyap, dan suara angin dari hutan pinus terputus begitu saja. Yang tersisa hanya ruang tanpa batas, berwarna putih pucat, dipenuhi pintu-pintu yang berdiri tanpa dinding. Ada pintu rumah masa kecil mereka, pintu laboratorium Arya Saputra, pintu karantina Forum Wina, pintu ruang eksperimen Synedrion, serta pintu kayu berukir garuda yang pernah dilihat Raka di Pesantren Al-Hikmah. Setiap pintu memuat satu ingatan. Setiap ingatan memiliki dua versi. Dan di antara semua pintu itu, sebuah lingkaran emas bergerak perlahan seperti mata raksasa yang baru terbangun setelah tidur ratusan tahun.
Momen Penting dalam Pintu-pintu Ingatan
Raka membuka mata, tetapi tidak lagi memiliki tubuh. Dia dapat merasakan dirinya berpikir, mengingat, dan bernapas, meskipun tidak ada paru-paru yang bergerak. Di sisi lain ruang itu, Rahsa berdiri dalam wujud anak berusia dua belas tahun, mengenakan pakaian yang sama seperti pada malam laboratorium diserang. Wajahnya bersih dari luka. Tidak ada bekas kabel neural pada pelipis, tidak ada lingkaran merah di pupil, tidak ada tubuh kurus yang dibentuk oleh dua puluh tiga tahun eksperimen. Hanya seorang anak yang berdiri di balik pintu kaca sambil menunggu kakaknya kembali.
“Kak,” panggil Rahsa.
Suara itu menghantam Raka lebih keras daripada seluruh peringatan Sistem TI. Selama dua puluh tiga tahun, panggilan tersebut terkubur di bawah lapisan memori buatan. Kini satu kata itu datang membawa asap, suara tembakan, tubuh ibunya yang jatuh, dan tangan Elias yang menyeretnya menuju jalur evakuasi. Raka berjalan mendekat, tetapi setiap langkah membuat ruang di antara mereka memanjang. Semakin dia mencoba mencapai Rahsa, semakin banyak pintu muncul, seolah kesadaran bersama itu dibangun dari seluruh keputusan yang pernah memisahkan mereka.
Keputusan Membuat Kesepakatan
“Jangan bergerak,” kata Raka. “Saya yang akan mendatangimu.”
Rahsa kecil menatapnya dengan kesedihan yang tidak seharusnya dimiliki seorang anak. “Kamu pernah mengatakan itu.”
Pintu kaca turun di antara mereka.
Raka berlari, menghantam permukaannya dengan kedua tangan, tetapi tubuhnya berubah. Dia kembali menjadi anak berusia dua belas tahun. Tangannya kecil, suaranya pecah oleh tangis, dan di belakangnya Profesor Elias muda berdiri sambil memegang alat suntik. Seluruh peristiwa malam serangan terulang, persis seperti yang baru saja dikembalikan oleh Protokol Garuda. Namun kali ini Raka dapat mendengar sesuatu yang sebelumnya hilang: suara dari pengeras ruangan, sangat pelan, tertutup alarm dan ledakan.
Di tengah keputusan yang sulit, Raka dan Rahsa akhirnya menemukan jalan keluar dengan membuat kesepakatan bersama untuk mengatasi situasi yang membingungkan.
**TUTUP**


