Balapulang: Gudang Seniman Berprestasi

by

Balapulang: Membumikan Talenta Seniman di Tegal

Tegal – Kopi hitam di atas meja mulai kehilangan asapnya. Di sampingnya, sebatang rokok kretek mengepulkan asap tipis yang sesekali terurai dibawa angin sore. Di sudut Kantor Kecamatan Balapulang, Imam Joend membuka kembali cerita tentang dunia seni di tanah kelahirannya. Rambut gondrong, tubuh tegap, dan gaya bicara khas membuat seniman senior ini mudah dikenali. Namun sore itu Imam Joend, ia tidak sedang bercerita tentang dirinya. Perhatiannya justru tertuju pada Balapulang, sebuah kecamatan di Kabupaten Tegal yang menurutnya menyimpan talenta seni luar biasa, tetapi belum memperoleh perhatian yang sepadan.

Talenta dan Jejak Panjang Seni di Balapulang

“Ada sastrawan, pencipta lagu hingga aktor film dan sutradara sekelas Imam Tantowi. Pokoknya tumplek blek di Balapulang. Menariknya lagi, dahulu penyanyi legendaris Iwan Fals pun kerap datang ke Balapulang,” ujar Imam. Menurutnya, Balapulang pernah menjadi ruang pertemuan bagi orang-orang yang hidup dari gagasan, kata-kata, musik, panggung, dan layar. Dari wilayah ini tumbuh seniman dengan beragam latar belakang dan prestasi. Imam menyebut almarhum Fajar Budiman sebagai salah satu nama yang patut dikenang. Ia merupakan pencipta lagu berjudul Menanti Kejujuran yang kemudian dipopulerkan Ahmad Albar.

Nama lain yang disebut Imam antara lain Imam Tantowi sebagai sutradara, Sides Sudyarto sebagai jurnalis, Agoes Balapulang sebagai aktor, serta Najeeb B sebagai komposer. Mereka dan masih banyak lagi yang tak bisa disebut satu persatu merupakan bagian dari jejak panjang kesenian yang pernah tumbuh di wilayah Balapulang Tegal.

Peran Pemerintah dalam Mendukung Dunia Seni

Imam Joend yang memiliki nama asli Junaidi ini bukan sosok asing dalam perjalanan seni. Ia pernah meraih penghargaan AMI Award. Pengalaman tersebut membuatnya percaya bahwa seniman dari daerah tidak kalah dengan mereka yang berada di kota besar, selama mendapatkan kesempatan yang sama. Menurut Imam, perhatian pemerintah terhadap dunia seni di Kabupaten Tegal masih belum maksimal. Dukungan berkelanjutan dibutuhkan agar para seniman memiliki ruang untuk berlatih, berkarya, tampil, mendokumentasikan karya, dan memperkenalkannya kepada masyarakat luas. “Jangan seniman hanya dicari ketika pemerintah punya acara. Setelah acara selesai, ya selesai juga perhatiannya,” tegas Imam yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Tegal.

Bagi Imam, panggung sesaat tidak saja cukup. Seniman membutuhkan ekosistem yang memungkinkan kreativitas terus hidup. Sebab seni bukan sekadar hiburan atau tepuk tangan penonton. Seni merupakan bagian dari identitas daerah, yang mampu menceritakan sejarah, karakter, tradisi, dan kehidupan masyarakat. Bahkan, seni dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif. Karena itu, merawat seniman bukan sekadar memberikan bantuan, melainkan investasi kebudayaan.

Balapulang sebenarnya telah memiliki modal besar: talenta, sejarah, pengalaman, dan jejak prestasi para seniman. Dan yang dibutuhkan kini adalah ruang agar potensi tersebut tumbuh. Sore di sudut kantor Kecamatan Balapulang Tegal semakin beranjak. Kopi di meja telah lama tak lagi panas, tetapi kegelisahan Imam belum selesai. Ia tidak meminta kemewahan. Ia hanya berharap pemerintah melihat seniman sebagai bagian penting dari identitas Kabupaten Tegal, bukan sekadar pengisi acara.

Source link