Dalam era globalisasi saat ini, aliran keuangan, informasi, dan barang yang lintas batas menjadi sumber risiko sekaligus peluang baru bagi setiap negara. Fenomena tersebut semakin nyata ketika konflik seperti Perang Ukraina dan Perang Iran terjadi. Dua perang itu menegaskan bahwa bahkan konflik terbatas memiliki dampak dengan skala global. Misalnya, Perang Ukraina menyebabkan pasokan makanan dunia terganggu, sementara Perang Iran mengganggu aliran energi internasional. Gangguan tidak semata-mata berasal dari penurunan produksi, tetapi juga akibat terganggunya jalur distribusi barang-barang esensial. Pada kasus Iran, gangguan di titik strategis seperti Selat Hormuz—yang tidak perlu benar-benar diblokir secara penuh—dapat langsung menaikkan premi asuransi dan memperbesar risiko sehingga aktivitas pelayaran dikurangi. Konsekuensinya, aliran minyak merosot tajam, yang menurut International Energy Agency (2026), menjadi gangguan terbesar dalam sejarah pasar energi global.
Situasi di Ukraina menunjukkan kerentanan pada sektor pangan. Sebelum konflik, sekitar enam juta ton ekspor pertanian Ukraina per bulan dikirim melalui pelabuhan Laut Hitam. Namun, dengan rusaknya jalur itu, pengalihan ke rute lain tidak mampu menutupi seluruh kebutuhan distribusi. Gangguan pada distribusi akhirnya memengaruhi produksi, sebab pasokan bahan baku pupuk dari Rusia dan Belarus juga terhambat dan berdampak secara internasional. Artinya, masalah tidak berhenti pada produksi nasional, tetapi juga pada apakah input, kapasitas pengiriman, dan jalur alternatif dapat berfungsi dengan baik.
Kedua perang memperlihatkan bahwa kemajuan ekonomi global ternyata melahirkan titik-titik konsentrasi atau simpul strategis yang, apabila terganggu, dapat memunculkan efek domino di berbagai belahan dunia. Efisiensi jaringan global masa damai bisa berubah menjadi sumber kerentanan saat terjadi konflik. Simpul kritis itu tidak hanya berupa infrastruktur fisik seperti selat atau pelabuhan, melainkan bisa berupa sistem keuangan, jaringan pembayaran, hingga semikonduktor dan layanan perangkat lunak. Fishman (2025) mencontohkan bahwa perang masa kini juga bisa memakai sanksi ekonomi, penolakan asuransi, atau pemutusan akses teknologi sebagai senjata. Dampaknya serupa: negara yang menjadi target tidak dapat berfungsi normal.
Clausewitz pernah menyatakan bahwa perang adalah alat untuk mencapai tujuan politik, dan kini, bentuk dan cakupan perang telah berkembang jauh. Untuk pihak yang diserang langsung seperti Ukraina dan Iran, bentuk kerusakan terlihat jelas. Namun, negara lain yang tidak terlibat perang pun bisa terdampak, misalnya saat gangguan ekspor pangan Laut Hitam memukul pasokan gandum di negara-negara tertentu, atau ketika harga energi melonjak akibat masalah di Selat Hormuz. Indonesia, meski tidak terlibat konflik, tetap harus menghitung risiko semacam ini.
Bahkan jika Indonesia bukan target konflik, efek dari perang lain dapat melanda sistem pangan, energi, komunikasi, transportasi, atau data. Pasokan bahan bakar, kebutuhan pangan militer, akses teknologi, sampai distribusi barang vital semua bisa terkena dampak rantai pasok global yang terputus. Akibatnya, perencanaan pertahanan tidak cukup hanya berpikir dari sisi kekuatan militer atau risiko serangan langsung saja. Indonesia perlu mengetahui juga apakah infrastruktur strategis akan tetap berfungsi jika terdampak perang di wilayah lain.
Strategi pertahanan Indonesia sepatutnya menyesuaikan, bukan dengan mengambil alih seluruh sektor, melainkan meningkatkan kemampuan mengidentifikasi dan melindungi simpul kritis; membangun cadangan, jalur alternatif, hingga memperbaiki sistem secepat mungkin ketika terjadi gangguan. Kemandirian nasional tidak berarti lepas dari ketergantungan eksternal jika tetap terikat pada input atau distribusi luar. Namun, negara masih dapat memperkuat daya tahan dengan membangun cadangan dan sistem darurat.
Bagi Indonesia yang berupa negara kepulauan, fundasi ekonomi dan kemampuan militernya bergantung pada keterhubungan antarpulau. Kerentanan Indonesia bukan saja pada jalur laut seperti selat, tetapi juga pelabuhan, terminal impor energi, gudang pangan, kabel bawah laut, fasilitas data, sistem pembayaran, serta jaringan distribusi yang mendukung kehidupan sehari-hari. Pelajaran dari Ukraina dan Iran justru menekankan bahwa ketergantungan tidak bisa dihindari, tapi keberadaan simpul yang sangat penting inilah yang perlu diperhatikan oleh perencana pertahanan nasional.
Indonesia perlu bertanya, pada fungsi apa yang sangat vital dan berapa lama negara bisa bertahan apabila simpul kritis ini lumpuh. Bayangkan keuntungan besar yang didapat jika akses pada simpul ini terjaga, misalnya untuk pendidikan anak-anak di pelosok negeri yang bercita-cita tinggi walaupun dengan fasilitas terbatas. Mendukung pengembangan akses semacam itu layaknya membantu negara membangun ketangguhan menghadapi risiko global maupun memperluas masa depan generasi berikutnya. Setiap kontribusi berarti membuka akses pada sumber daya penting yang menjadi pondasi harapan dan kemajuan bangsa.
Sumber: Perang Terbatas, Dampak Global: Broto Wardoyo Soroti Ketahanan Pertahanan Indonesia
Sumber: Menakar Dampak Tak Terbatas Dari Perang Terbatas





