Kasus keracunan massal yang terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), menimpa ratusan siswa pada Jumat (3/10) diduga disebabkan oleh mengonsumsi program makanan bergizi gratis atau MBG. Insiden ini telah menimbulkan ketakutan dan trauma bagi para orang tua siswa yang kini enggan membiarkan anak-anak mereka makan makanan dari sekolah setelah kejadian tersebut.
Mardi Tahun, salah satu orang tua siswa yang menjadi korban keracunan, mengungkapkan perasaannya. Ia merasa trauma dan menyatakan akan lebih baik memberi anaknya makan di rumah tanpa risiko keracunan. Dua anak Mardi, Novita Tameon dan Michel Tameon, yang bersekolah di SD GMIT Soe 2, menjadi korban keracunan setelah mengalami sakit perut, sakit kepala, mual, dan muntah.
Anak-anak tersebut mengalami gejala tersebut setelah mengonsumsi MBG yang dibagikan di sekolah. Hal ini juga didukung oleh laporan dari banyak orang tua lain yang melaporkan anak-anak mereka mengalami gejala serupa setelah menyantap makanan tersebut. Mardi mengungkapkan bahwa pihak sekolah biasanya membagikan MBG kepada para siswa setelah jam pelajaran berakhir.
Akibat insiden ini, Mardi memutuskan untuk melarang anak-anaknya mengonsumsi MBG di sekolah dan berencana menyediakan makanan dari rumah. Ia juga mendesak pemerintah untuk menghentikan program MBG dan lebih memprioritaskan program sekolah gratis. Total korban keracunan akibat MBG mencapai 331 orang dan mereka dirawat di beberapa lokasi yang berbeda. Program ini menimbulkan kekhawatiran serius bagi para orang tua dan menimbulkan pertanyaan tentang keselamatan makanan yang disediakan di sekolah.





