Curah hujan ekstrim yang mengguyur Pulau Sumatera selama beberapa hari terakhir menyebabkan wilayah-wilayah di sana terdampak parah. Akibat hujan yang tak kunjung reda, banyak daerah mengalami banjir besar dan tanah longsor, sehingga akses jalan darat terhambat bahkan terputus. Kondisi itu menyebabkan sejumlah desa dan kecamatan di Sumatera Utara seperti Tapanuli Tengah, Sibolga, serta Tapanuli Selatan, menjadi sulit dijangkau.
Dalam sebuah konferensi pers pada 4 Desember 2025, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menegaskan bahwa wilayah-wilayah yang terisolasi masih membutuhkan perhatian serius. Ia juga menyampaikan bahwa warga setempat mulai kesulitan mendapatkan logistik karena pasokan tidak bisa disalurkan secara normal akibat terputusnya jalur darat.
Untuk merespons situasi tersebut, penyaluran bantuan diarahkan dengan memanfaatkan jalur udara agar dapat menjangkau titik-titik yang terisolasi dalam waktu singkat. Distribusi melalui udara menjadi opsi utama, mengingat satu-satunya cara untuk mengatasi hambatan transportasi darat saat ini adalah melalui jalur udara.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama TNI dan Basarnas turut andil dalam pengiriman bantuan melalui udara. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi BNPB menyatakan, koordinasi lintas lembaga menjadi kunci utama agar penyaluran bantuan dapat berjalan efisien. Mereka mengerahkan pesawat transport dan helikopter TNI untuk mengantarkan logistik langsung ke lokasi-lokasi terdampak yang benar-benar sulit ditembus dari darat.
Selain itu, salah satu teknik distribusi yang diterapkan adalah low cost low altitude (LCLA), atau yang lebih dikenal sebagai airdrop. Metode ini membutuhkan keterampilan khusus dari personel TNI AU yang bertugas karena perhitungan lokasi penerjunan dan ketinggian pesawat harus benar-benar presisi. Tidak mudah untuk melakukan airdrop karena variabel-variabel seperti cuaca, arah angin, dan kondisi geografis setiap lokasi harus diperhatikan secara detail.
Sejauh ini, tercatat 15 personil Satuan Pemeliharaan (Sathar) 72 Depohar 70 yang bermarkas di Lanud Soewondo Medan telah dikerahkan untuk mendukung operasi di tiga provinsi terdampak bencana. Pengiriman bantuan lewat udara direncanakan akan berlangsung mulai awal hingga pertengahan Desember 2025, sesuai jadwal yang ditetapkan.
Namun, pelaksanaan airdrop tidak bisa sembarangan. Tim di lapangan harus menentukan zona penerjunan (drop zone) dengan tepat agar bantuan sampai di area yang benar-benar membutuhkan. Hanya personel yang memiliki pelatihan khusus di bidang ini yang dapat melaksanakan tugas dengan baik dan aman. Mereka harus siap menghadapi kendala alam seperti hujan deras, kabut, atau medan pegunungan yang sulit.
Selain mengandalkan pesawat dan helikopter milik TNI, penggunaan teknologi drone transport juga mulai dilirik sebagai alternatif untuk mendukung distribusi bantuan lebih luas. Beberapa perusahaan di Indonesia telah memiliki armada drone besar yang bisa dioperasikan guna mengangkut logistik ke wilayah terpencil. Adopsi teknologi ini diyakini akan mempercepat penyaluran bantuan, sembari menunggu dibukanya kembali akses transportasi darat yang tertutup akibat bencana.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, TNI, dan sektor swasta, diharapkan kebutuhan masyarakat terdampak bencana di Sumatera dapat segera terpenuhi dan situasi darurat bisa ditangani dengan baik hingga kondisi kembali normal.
Sumber: Operasi Airdrop TNI Jadi Andalan Distribusi Bantuan Di Sumatera Yang Terisolasi
Sumber: Kapasitas TNI Dalam Distribusi Bantuan Bencana Melalui Udara





