Beli Bayam Pakai QRIS: Siapnya Pasar Tradisional Sulsel ke Non-Tunai?

by

Pasar Sayur Tradisional Sulawesi Selatan: Antara Transisi Non-Tunai dan Realitas Lapak Basah

Di tengah bau daun kemangi dan tumpukan wadah bambu berisi cabai merah di Pasar Terong, Makassar, seorang pembeli muda membayar sayuran segar menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) milik bank BUMN. Transaksi digital ini mencerminkan akselerasi digitalisasi pembayaran di Sulawesi Selatan yang menembus angka Rp2,57 triliun dengan 28,8 juta transaksi pada Juni 2026.

Masih Ada Rintangan di Lapak Basah

Di lapak pedagang sayur skala mikro, seperti Daeng Nurung, transisi ke pembayaran non-tunai menghadapi rintangan. Pedagang harus mempertimbangkan kecepatan dan likuiditas harian dalam menjalankan usaha mereka. Pembayaran digital yang memerlukan jeda waktu pencairan dana dan kurangnya literasi digital di kalangan pedagang sayur menjadi hambatan utama.

Hambatan Struktural Perlu Dipecahkan

Studi lapangan menunjukkan tiga hambatan struktural utama yang harus diatasi agar transisi ke pembayaran non-tunai lancar di pasar tradisional:

  1. Jeda Settlement Dana: Pedagang menghadapi kesulitan dalam mencairkan dana pembayaran non-tunai yang mengakibatkan kehabisan uang tunai untuk modal usaha harian.
  2. Keterbatasan Literasi Digital & Perangkat: Pedagang yang belum terbiasa dengan aplikasi perbankan digital dan khawatir akan penipuan membutuhkan edukasi yang lebih intensif.
  3. Kendala Infrastruktur Logistik Pasar: Sinyal seluler lemah dan biaya komisi transaksi menjadi beban tambahan bagi pedagang.

Kunci Keberhasilan: Kolaborasi lintas sektor

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendorong transisi ke pembayaran non-tunai di pasar tradisional. Transformasi digital yang inklusif membutuhkan dukungan pemerintah, perbankan, swasta, dan masyarakat secara bersama-sama.

Tanpa keterhubungan di rantai pasok hulu, transaksi non-tunai hanya akan menjadi pelengkap, bukan fondasi utama perekonomian rakyat di pasar tradisional Sulawesi Selatan.

Source link