Kualitas Udara Palangka Raya Masuk Kategori Hitam Akibat Karhutla

by

Kualitas udara di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, berada pada level paling buruk di Indonesia pada Jumat (18/9). Pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan konsentrasi partikulat PM2.5 di kota tersebut mencapai 990,5 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 12.00 WIB.

Angka itu menempatkan kualitas udara Palangka Raya dalam kategori hitam atau berbahaya. Berdasarkan klasifikasi yang digunakan dalam pemantauan tersebut, kategori berbahaya berada pada konsentrasi PM2.5 di atas 250,5 µg/m³. Dengan demikian, angka yang tercatat di Palangka Raya berada jauh di atas ambang kategori tersebut.

Data BMKG dan IQAir sama-sama menunjukkan polusi berat

Gambaran serupa terlihat dalam pemantauan IQAir. Pada pukul 13.00 WIB di hari yang sama, platform pemantauan kualitas udara itu mencatat konsentrasi PM2.5 di Palangka Raya sebesar 606,2 µg/m³.

Menurut data IQAir, tingkat tersebut setara dengan 121,2 kali nilai panduan tahunan PM2.5 yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Perbedaan angka antara pemantauan BMKG dan IQAir tercatat pada waktu pengukuran yang berbeda, tetapi keduanya sama-sama menunjukkan kondisi polusi udara yang sangat tinggi di Palangka Raya.

PM2.5 adalah partikulat berdiameter kurang dari 2,5 mikron. Ukurannya yang sangat kecil membuat polutan ini memiliki ancaman kesehatan besar karena dapat masuk ke dalam tubuh saat terhirup dan terserap ke aliran darah.

Titik api masih terdeteksi di Kalimantan Tengah

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu faktor yang dapat menghasilkan polutan PM2.5. Kondisi kualitas udara di Palangka Raya tersebut muncul ketika titik api masih terpantau di sejumlah wilayah Kalimantan, terutama Kalimantan Tengah.

Berdasarkan dashboard informasi penanganan karhutla Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat 63 titik api yang terdeteksi di Kalimantan Tengah dalam laporan per Kamis (17/9). Pada periode yang sama, BNPB juga melaporkan lahan seluas 115,4 hektare terbakar dalam 24 jam terakhir.

Data tersebut menjadi konteks bagi memburuknya kualitas udara di Palangka Raya. Asap dan partikulat dari kebakaran dapat memengaruhi kondisi udara di wilayah terdampak, sementara pemantauan pada Jumat siang menempatkan kota itu sebagai lokasi dengan kualitas udara terburuk di Indonesia.

Source link