DPR Minta Kemenag Siapkan Tempat Belajar Darurat Santri – Al Khoziny

by

Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Singgih Januratmoko, mendesak Kementerian Agama (Kemenag) segera menyiapkan ruang belajar darurat bagi santri Al Khoziny setelah gedung asrama mereka ambruk. Menurut dia, kegiatan belajar tidak boleh terhenti terlalu lama, tetapi kesinambungan pendidikan itu harus ditopang tempat yang aman, layak, dan tidak menambah beban psikologis para santri.

Belajar harus tetap berjalan

Singgih menilai, di tengah situasi pascabencana, perhatian pemerintah tak cukup berhenti pada evakuasi korban. Pemulihan kondisi santri dan lingkungan pesantren perlu diprioritaskan agar proses belajar mengajar bisa kembali berlangsung. Ia juga mengapresiasi kerja tim gabungan yang telah melakukan pencarian dan penyelamatan korban di lokasi kejadian.

Selain itu, ia meminta Kemenag memberi pendampingan penuh kepada pesantren dan keluarga korban, mulai dari aspek pendidikan, kesehatan, hingga pemulihan psikologis. Menurut Singgih, dampak dari peristiwa ini tidak hanya dirasakan pada fisik bangunan, tetapi juga pada mental para santri dan orang tua mereka.

Momentum evaluasi pesantren

Politikus Partai Golkar itu menyebut ambruknya gedung Ponpes Al Khoziny sebagai peringatan serius bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi total atas kondisi fisik dan kelayakan bangunan pondok pesantren di seluruh Indonesia. Ia mendorong Kemenag berkoordinasi dengan Kementerian PUPR dan BNPB untuk melakukan audit teknis bangunan serta memastikan standar keselamatan minimum di lembaga pendidikan keagamaan.

Menurut Singgih, pesantren memegang peran penting sebagai benteng moral bangsa. Karena itu, negara, kata dia, berkewajiban memastikan lingkungan belajar yang aman dan layak bagi para santri. Proses evakuasi korban sendiri telah selesai, dengan data terakhir mencatat 67 korban tewas dan 104 korban selamat. Dari jumlah korban meninggal itu, 34 orang telah teridentifikasi.

Di tengah data korban yang terus menjadi perhatian publik, tuntutan berikutnya kini bergeser ke satu hal yang sama mendesak: bagaimana memastikan tragedi serupa tidak kembali terjadi di lembaga pendidikan yang selama ini menjadi rumah bagi ribuan santri.