Wahdi Azmi: Konservasi Bukan Sekadar Proyek

by

Wahdi Azmi: Konservasi Bukan Sekadar Proyek

https://www.youtube.com/watch?v=amC-3-LN0lw&t=67s

Konservasi kerap dipahami sebatas urusan menyelamatkan satwa liar dan menjaga hutan tetap utuh. Padahal, di lapangan, persoalannya jauh lebih rumit. Di tengah menyempitnya ruang hidup alam, manusia justru menjadi faktor yang paling menentukan apakah sebuah upaya pelestarian akan bertahan atau gagal.

Wahdi Azmi, dokter hewan sekaligus aktivis konservasi di Sumatera yang lama menangani konflik manusia dan gajah, menilai pelestarian alam tidak bisa dipisahkan dari kehidupan warga yang tinggal di sekitarnya. Baginya, konservasi akan kehilangan pijakan bila masyarakat hanya diminta menahan dampak tanpa memperoleh manfaat yang nyata.

Konflik Tak Selalu Berawal dari Satwa

Pengalaman Wahdi menunjukkan, akar benturan antara manusia dan satwa kerap tidak sesederhana perilaku hewan liar. Banyak persoalan justru muncul setelah lanskap berubah akibat alih fungsi lahan. Hutan dibuka menjadi perkebunan atau permukiman, lalu satwa kehilangan jalur jelajah dan sumber pakan.

Perubahan itu, menurut dia, sering tidak dibarengi skema sosial maupun ekonomi yang memadai bagi warga lokal. Akibatnya, ruang gerak satwa menyempit, sementara tekanan pada masyarakat meningkat. Dalam situasi seperti ini, konflik menjadi hampir tak terhindarkan karena manusia dan satwa dipaksa berbagi ruang tanpa desain yang adil bagi keduanya.

Ketika Warga Merasa Ditinggalkan

Selama ini, banyak program konservasi dijalankan dengan pendekatan proteksi ketat: pembatasan area, pembekuan akses, hingga larangan beraktivitas di kawasan tertentu. Di atas kertas, cara ini tampak tegas. Namun di lapangan, pendekatan semacam itu kerap menciptakan jarak dengan masyarakat.

Bagi warga di sekitar kawasan konservasi, pembatasan yang berulang sering dibaca sebagai hilangnya hak untuk hidup layak. Peluang ekonomi menyempit, sementara risiko berhadapan dengan satwa liar tetap ada. Tidak sedikit yang akhirnya memandang konservasi sebagai beban, bukan sebagai kepentingan bersama.

Wahdi menekankan, manusia mesti ditempatkan sebagai bagian dari solusi. Konservasi, kata dia, perlu menyatu dengan kepentingan sosial dan ekonomi masyarakat. Alam, ekonomi, dan pengetahuan harus berjalan seimbang jika pelestarian ingin bertahan dalam jangka panjang.

Belajar dari Mega Mendung

Salah satu contoh pendekatan yang lebih terintegrasi terlihat di Mega Mendung, Bogor. Di kawasan perbukitan yang berfungsi sebagai penyangga ekologis bagi wilayah perkotaan besar itu, tekanan terhadap lahan berlangsung sangat kuat. Di bawah bimbingan Yayasan Paseban dan Andy Utama, Arista Montana mengembangkan model pelestarian yang tidak memisahkan aktivitas manusia dari konservasi lingkungan.

Di sana, pertanian organik komunitas menjadi praktik utama. Petani lokal tidak hanya dilibatkan dalam produksi, tetapi juga didampingi untuk memahami cara menjaga kualitas tanah dan air. Hasilnya bukan semata panen yang lebih baik, melainkan ekosistem yang tetap sehat dan produktif.

Peran Yayasan Paseban juga menonjol lewat pelatihan dan edukasi. Masyarakat dibekali pengetahuan praktis tentang pertanian berkelanjutan, pengelolaan lingkungan, hingga cara menanamkan kesadaran ekologis kepada generasi muda. Konservasi, dalam model ini, tidak berhenti sebagai slogan, melainkan menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari.

Pengalaman dari Sumatera dan Mega Mendung memperlihatkan satu benang merah: konservasi akan lebih mudah bertahan ketika masyarakat merasa memiliki. Tanpa pelibatan aktif, tanpa manfaat yang jelas, dan tanpa ruang bagi warga untuk ikut menentukan arah kebijakan, upaya pelestarian rawan mandek di tengah jalan.

Sebaliknya, ketika masyarakat diberi peran, keterampilan, dan kesempatan ekonomi yang sejalan dengan pelestarian, konservasi tidak lagi berdiri sebagai beban tambahan. Ia berubah menjadi cara hidup yang masuk akal, sekaligus jalan untuk menjaga masa depan alam dan manusia secara bersamaan.

Sumber: Wahdi Azmi Sebut Konservasi Harus Memberi Manfaat Bagi Masyarakat

Sumber: Dari Gajah Ke Mega Mendung, Ketika Konservasi Harus Menghidupi